Ekarina Sitepu ; Emosi Negatif Perlu Dihargai
last updated 18-06-2020
Ekarina Sitepu ; Emosi Negatif Perlu Dihargai
UKI —
Kemampuan mindfulness akan mengubah bagaimana kita berelasi dengan peristiwa dan pengalaman yang kita hadapi setiap hari. Mindfulness akan memberi kita lebih banyak ruang untuk menjadi lebih responsif dan tidak reaktif dalam menjalani hidup. Kemampuan itu akan membuat manusia secara umum lebih bahagia menghadapi kehidupannya. 

Kepala Unit Pelayanan Kerohanian dan Konseling (UPKK) UKI, Ekarina Sitepu, M.Pd.K., , menjelaskan lebih jauh tentang mindfulness, “Seringkali saat sedang makan pikiran melayang ke pekerjaan, perasaan kita menjadi campur aduk dengan berbagai peristiwa yang kita alami. Kita tidak bisa menikmati makanan yang sedang kita nikmati.”

“Masa istirahat siang tidak digunakan untuk sungguh-sungguh mengistirahatkan pikiran agar pikiran lebih segar untuk mulai bekerja lagi setelahnya. Ketika merasa lapar, misalnya, diabaikan, sehingga akhirnya kita tidak bisa menangkap lagi sinyal-sinyal yang diberikan tubuh, yang kemudian menimbulkan masalah lain seperti penyakit asam lambung,” tambahnya mengingatkan. 

Ia pun memberi contoh. Ketika menuang sabun perhatikan warna sabun, amati merk sabun yang digunakan, sebanyak apa dituang, bagaimana itu menyentuh tangan, baui aroma sabun, dengar bunyi air, lihat busa yang melimpah. Bila merasa kedinginan, rasakan dan terima. Kenali emosi yang dirasakan saat itu. Misalnya terkejut oleh dinginnya air. Hargai emosi itu, terima saja, jangan dihakimi sebagai sesuatu yang negatif. 

“Emosi negatif perlu dihargai, dan dikenali. Ketika muncul rasa khawatir menghadapi pandemi, hargai perasaan itu karena itu adalah perasaan yang nyata dan ada dalam diri kita, dan memberi pengaruh pada pikiran dan perilaku kita. Emosi perlu dihargai dan dikenali agar kita bisa mengaturnya, sehingga kita memiliki pilihan-pilihan yang lebih luas tentang bagaimana merespon emosi itu, dan bukannya bersikap reaktif,” sambungnya. 

Biasanya kita menghindari emosi negatif karena itu tidak menyenangkan, kata Ekarina lagi. Atau, disisi lain kita akan bersikap reaktif. Misalnya ketika cemas memikirkan pandemi ini, kita bisa kehilangan konsentrasi dalam bekerja dan terus dipenuhi rasa khawatir yang dapat menimbulkan tekanan dalam diri, yang dapat memicu timbulnya masalah lain.

Mindfulness dapat menjadi salah satu cara untuk menolong mengambil jarak dengan emosi negatif yang muncul, sehinga kita bisa lebih punya pilihan untuk merespon emosi negatif tersebut. (ics)