Hobi Menulis, Datangkan Hoki

Era informasi dan teknologi menjadi sebuah tantangan sekaligus peluang bagi masyarakat dunia. Arus informasi dan komunikasi saat ini tak lagi terbatas oleh ruang dan waktu. Disebut tantangan, karena kecepatan dan kegesitan mutlak dibutuhkan bila ingin memperoleh informasi terbaru. Di sisi lain, tantangan dimaksud juga menyediakan ruang dan peluang. Mengetahui informasi perkembangan terkini pada akhirnya bisa menghasilkan sebuah peluang untuk selangkah lebih maju dibanding yang lain.
Media cetak atau media elektronik merupakan penyedia jasa informasi seperti berita, iklan, dan hiburan. Dengan demikian, kehadiran media baik cetak maupun elektronik merupakan salah satu jenis pekerjaan yang diidamkan banyak orang.
Media televisi adalah salah satu jenis media yang menjanjikan untuk bidang pekerjaan. Salah satu program acara yang belakangan makin diminati adalah sinema elektronik (sinetron). Animo masyarakat yang demikian, tentu saja memberikan peluang bagi penulis skenario. Penulis skenario kini menjelma menjadi sebuah pekerjaan yang menggiurkan. Pemahaman itulah yang menjadi dasar kegiatan Seminar Menjadi Penulis Skenario dan Peluang Kerja di Media Televisi. Acara ini sendiri diselenggarakan oleh Fakultas Sastra Universitas Kristen Indonesia dalam rangka Bulan Bahasa di Ruang Seminar Lantai III Kampus UKI Cawang, tertanggal 12 November 2009, dengan narasumber budayawan yang juga penulis ternama, Arswendo Atmowiloto.
Acara ini demikian menariknya hingga ruangan seminar sejak pukul 9 pagi telah dipadati oleh kurang lebih 200 peserta yang terdiri dari siswa/i perwakilan 25 sekolah menengah umum Jakarta dan mahasiswa/i UKI. Tingginya animo para peserta dalam mengikuti seminar terlihat dengan derasnya pertanyaan yang ditujukan kepada Arswendo. Seminar yang dimoderatori oleh Dekan Fakultas Sastra UKI ini sesekali pecah oleh gelak tawa dan applaus peserta karena presentasi seminar yang dibawakan Arswendo kerap mengocok perut dan sedikit menyentil peserta. Presentasi penulisan skenario yang dibawakan arswendo demikian sederhana, sehingga para peserta pun dapat mengerti apa yang
disampaikan pemilik rumah produksi PT Atmochademas Persada yang telah membuat sejumlah sinetron seperti “Keluarga Cemara” yang memperoleh Panasonic Award 2000 sebagai acara anak-anak favorit.
Materi seminar yang ia beri judul Menulis skenario itu gampang sekali, apalagi kalau hobi, yang penting punya lobi, dari situ datang hoki” ini lebih memberi pengetahuan mendalam tentang dunia penulisan,
yang menurutnya susah-susah gampang. “Menulis skenario itu susah-susah gampang, tergantung kita punya niat dan kemauan menulis apa ngga” katanya ketika menjawab salah satu pertanyaan dari peserta. “Langsung saja tulis apa yang ada dibenak mu, pelan-pelan dan nanti lihat sendiri hasilnya” tambah budayawan dengan nama kecil sarwendo itu.
Ia juga menjawab beberapa pertanyaan yang cukup krusial dari sebagian besar peserta yang bertanya, seperti bagaimana mengembangkan tulisan untuk dipublikasikan kepada masyarakat, terutama mengirimkan naskah dan tulisan kepada penerbit. “Kirim dan coba saja. Ngga usah malu-malu. Penulis “Laskar Pelangi” Andrea Hirata atau Rendra (WS Rendra) sekalipun dulu ngga pede buat ngirim ke penerbit, tapi gara-gara temannya yang ngirim akhirnya sukses dimuat loh,” paparnya kepada peserta. Pemaparan lebih jauh adalah pengalaman dirinya bahwa hobi menulis perlu dilihat sebagai suatu prospek cerah masa depan yang dapat mendatangkan hoki jika kita dapat mengelolanya dengan baik.
Penjelasan paling menarik dari Arswendo adalah mengenai banyaknya masyarakat yang enggan mengirimkan karyanya karena menilai dirinya bukan siapa-siapa “Saya pernah mengirimkan karya ke media cetak tapi pake nama palsu. Eh diterbitkan juga loh. Jadi yang penting itu karyanya, bukan kita itu siapa” tegasnya.
Ketika ia ditahan pada 1990 selama lima tahun karena kasus jajak pendapat “siapa yang menjadi tokoh pembaca” pada tabloid Monitor, ia menghasilkan tujuh buah novel, puluhan artikel, tiga naskah skenario
dan sejumlah cerita bersambung lainnya. Sebagian dikirimkannya ke berbagai surat kabar, dengan menggunakan alamat dan identitas palsu, seperti cerita bersambungnya, "Sudesi" (Sukses dengan Satu Istri), ia menggunakan nama "Sukmo Sasmito". Nama-nama lain pernah dipakainya adalah “Lani Biki”, "Said Saat" dan "B.M.D Harahap".
Secara keseluruhan seminar, yang didominasi oleh para siswa ini, mampu memotivasi para peserta untuk lebih mengenal dunia penulisan terutama menulis skenario. Menurut Randika salah satu peserta dari SMU 107, acara ini kaya akan ilmu dan pengetahuan yang menjadi patokan bagi diri dan teman-temannya untuk dapat menulis dengan baik. “Pengalaman Arswendo sangat menarik dan berharga bagi kita melihat lebih jauh ke depan tentang dunia penulisan terutama menulis skenario” katanya.
Lain lagi diungkapkan oleh Nadia dari SMU 74 yang menurutnya kemasan acaranya yang disajikan sangat menarik dan materi membuatnya terpacu untuk mengenal lebih jauh mengenai dunia penulisan.”Acaranya keren, apalagi materi skenarionya menarik banget” katanya.
Acara yang disertai dengan pemberian kenang-kenangan kepada Arswendo dari pihak kampus UKI berupa lukisan karay Ni Wayan Handoko yang juga alumnus FS UKI. Di ujung acara penampilan memukau Joy Tobing mampu menyihir peserta untuk turut menyanyi. Ada kecerian dari para peserta karena mereka pulang dengan membawa ilmu dan motivasi berharga yang dapat mengubah hobi menjadi hoki. (Niel)