Kerja Sama UKI dan KONI

Pada tanggal 14 Juli 2009 telah ditandatangani kesepakatan kerjasama antara Universitas Kristen Indonesia dan KONI bertempat di gedung KONI. Pihak UKI yang diwakili oleh Ir. Maruli Gultom dan KONI oleh Rita Subowo bersepakat bahwa UKI akan memfasilitasi pendidikan para atlet ke jenjang D3 dan S1 .

Saat ini dalam masyarakat Indonesia ada kesan bahwa kehidupan masa depan atlet Indonesia tidak menentu. Anggapan seperti ini tidak dapat disalahkan sepenuhnya. Karena kadang kehidupan para atlet memprihatinkan setelah masa jayanya berlalu. Berbagai upaya pemerintah melalui KONI telah dilakukan untuk mengantipasi hal tersebut, antara lain dengan bekerja sama dengan beberapa perusahaan yang menjadi “ orang tua angkat “ bagi para atlet. Artinya setelah si atlet tersebut melewati masa jayanya maka perusahaan yang menjadi orang tua asuhnya bersedia menerima mereka untuk bekerja. Sistem orang tua angkat ini memang baik, namun tidak selalu berjalan lancar. Kendala yang utama dari sistem ini adalah masalah pendidikan si atlet. Walalupun si atlet telah diterima bekerja di perusahaan tertentu, namun karena pendidikan mereka rendah, maka posisi yang ditawarkanpun rendah, seperti : sebagai kasir, satuan pengamanan, penjaga gudang dan lain sebagainya. Terobosan lain yang dilakukan adalah selain menjalin kerjasama dengan perusahaan tampaknya KONI harus juga menjalin kerjasama dengan lembaga perguruan tinggi untuk meningkatkan kemampuan akademik para atlet. Sehingga kelak ketika masa jaya si atlet selesai, maka mereka dapat bekerja pada posisi yang lebih baik sesuai dengan tuntutan jaman.

Universitas Kristen Indonesia (UKI) dalam hal ini membuka diri untuk bekerjasama dengan KONI dalam mengakomodir pendidikan para atlet. Pihak UKI melihat bahwa memberikan pendidikan kepada para atlet, merupakan bagian dari tanggung jawab UKI dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini sejalan dengan motto UKI yakni melayani dan bukan dilayani. Jika kita melihat ke belakang bagaimana UKI didirikan, adalah bermula dari keinginan para pendiri UKI untuk mengisi kemerdekaan Republik Indonesia dengan menyediakan pendidikan untuk mencerdaskan anak bangsa. Dalam hal ini atlet adalah anak bangsa yang turut serta berusaha mengibarkan bendera merah putih untuk mengharumkan nama bangsa di tingkat internasional, oleh sebab itu mereka juga layak mendapatkan pendidikan untuk menjamin masa depan mereka. Dalam perjalanannya UKI didirikan untuk menampung mahasiswa yang tidak mungkin semuanya tertampung di Perguruan Tinggi Negeri (PTN), termasuk para atlet yang karena satu dan lain hal tidak dapat berkuliah di PTN. Ditengah – tengah kesibukan para atlet memang merupakan sebuah dilema bila harus dibebani lagi untuk mengikuti paket pendidikan reguler. Namun kesulitan ini dapat dicarikan jalan keluarnya dan UKI akan menawarkan program khusus dari beberapa fakultas yang waktu perkuliahannya akan disesuaikan dengan kesibukan para atlet. Program khusus ini bukan berarti mengurangi mutu pendidikan. Di samping itu UKI juga akan memberi kesempatan bagi para mantan atlet yang masih mempunyai keinginan untuk melanjutkan studi ke tingkat strata yang lebih tinggi.

Di negara – negara yang sudah maju, adalah hal yang biasa bilamana seorang atlet mendapat perlakuan khusus dari sebuah perguruan tinggi. Seorang atlet misalnya mendapat dispensasi waktu yang lebih lama untuk berkuliah dibandingkan dengan mahasiswa biasa. Universitas di negara – negara maju juga sering memberikan beasiswa khusus untuk atlet – atlet yang berprestasi. Di Indonesia perlakuan seperti ini dirasakan sangat kurang. Dengan kerja sama UKI dan KONI ini diharapkan UKI menjadi pelopor dari universitas yang dapat memfasilitasi para atlet untuk mencapai masa depan yang lebih cerah.