Kunjungan Agung Laksono dan Teras Narang di UKI

Selasa 25 Agustus 2009 UKI mengadakan penerimaan mahasiswa baru yang dihadiri langsung oleh beberapa alumninya yang berhasil. Pada pertemuan yang bertempat di ruang aula UKI Cawang ini alumni diundang untuk hadir dan memberikan prakata-demi prakata kepada mahasiswa baru Universitas Kristen Indonesia angkatan 2009/2010. Jika dihari sebelumnya yang diundang hadir adalah ketua Ikatan Alumni UKI, Dhaniswara, pada pertemuan kali ini yang hadir adalah Ketua DPR Republik Indonesia, Agung Laksono dan Gubernur Kalimantan Tengah, Agustin Teras Narang.

Lewat pertemuan ini setiap mahasiswa baru dapat bertemu dan berbicara secara langsung dengan alumni kampusnya yang telah berhasil. Hal ini dikarenakan adanya pemaparan pengalaman oleh Agung Laksono dan Teras Narang mengenai pengalamannya selama berkuliah di UKI. Adanya pemaparan tersebut tampaknya menjadi sesuatu yang memotivasi para mahasiswa baru yang mendengarkan. Hal ini dapat terlihat dari antusiasme mereka saat kedua alumni UKI tersebut berbicara kepada para mahasiswa secara bergantian. Pertemuan tersebut semakin hangat ketika beberapa perwakilan mahasiswa diberikan kesempatan untuk memberikan pertanyaan. Pertanyaan yang diutarakan oleh mahasiswa pun tampaknya cukup tegas bahkan mengkritik kinerja pemerintah lewat Agung Laksono yang menjabat sebagai Ketua DPR RI.
Pada kesempatan tersebut, Agung Laksono, yang akrab dipanggil Agung, dalam pidato singkatnya bercerita mengenai pengalamannya selama kuliah di UKI. Ia menceritakan bagaimana ia cukup aktif dalam berorganisasi semasa ia duduk di bangku kuliah. Selain itu ia juga menegaskan pentingnya semangat kebangsaan di tengah-tengah bangsa Indonesia. Dalam perjalanan hidupnya, jebolan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia ini telah menerima beberapa penghargaan. Di antaranya; Adimanggalya Krida Pembina Olahraga (2000), Bintang Maha Putera Adipradana (1999) dan Doctor Honoris Causa in International Business, Pittsburgh State University, USA (1989). sayangnya pria kelahiran 23 Maret 1949 di semarang ini tidak memiliki waktu yang lama untuk memberikan ceramah singkatnya dengan mahasiswa baru, mengingat ia pun memiliki tugas-tugas negara yang harus menjadi prioritas utama. Seikit mengulang pendapatnya lkepada pers, pada tahun 2008 Agung sempat mengemukakan kepada pers perihal situasi kondisi gedung kampus UKI, "Gedung ini, setelah puluhan tahun masih begini begini saja," ucapnya mengingatkan para alumni untuk turut memikirkan kemajuan almamaternya.

Selesai Agung Laksono memberikan ceramahnya, suasana semakin hangat dengan hadirnya Agustin Teras Narang. Alumni Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia ini menceritakan bagaimana ia berusaha mengalahkan dominasin kalangan tertentu semasa ia kuliah di UKI. Ia menceritakan bagaimana ia semasa kuliah mencoba memenangkan pemilu Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) UKI dengan melawan pengaruh dominan di kampus oleh kalangan tertentu dengan kecerdikkannya. Gaya berceritanya yang santai dan menghibur membuat para mahasiswa baru yang hadir di ruang aula saat itu tertawa. Gubernur yang dikenal dekat dengan warganya ini pun menegaskan pentingnya rasa kesetiaan terhadap negara yang salah satunya diwujudkan dengan tidak korupsi. Ia menegaskan bahwa kalau ada tindakan-tindakan yang melanggar hukum dengan cara bermain dengan uang rakyat harus ditindak dengan tegas.
Pastinya kedua alumni UKI yang memberikan ceramahnya memiliki kesamaan dalam hal rasa bangganya menjadi bagian dari almamater UKI. Keduanya menekankan kepada mahasiswa bahwa mahasiswa UKI harus memiliki rasa bangga tersebut, apapun kondisinya kampus ini. Mereka meyakinkan bahwa tanpa UKI mereka belum tentu berada pada posisi seperti saat ini.

UKI Itu Kampus Plural
Wawancara dengan Agung Laksono dan Teras Narang
Sebagai alumni dari sebuah kampus yang besar, Teras Narang yang saat ini menjadi Gubernur Kalteng menceritakan pengalamannya semasa ia berkuliah dan mencoba melihat situasi dan kondisi kampus tercintanya saat ini. Berikut wawancaranya.

Apa beda kondisi perkuliahan di masa bapak dengan kondisi perkuliahan saat ini?
Teras Narang : Jelas berbeda, dari sisi waktu, terutama dari segi keadaan masyarakat yang jelas mempengaruhi. Jadi sekarang mahasiswa dituntut untuk lebih tekun lagi, karena tantangan jauh lebih besar dibandingkan pada saat saya berkuliah dulu. Jadi mereka harus berupaya untuk meningkatkan kemampuan dan ini harus diupayakan dengan adanya keinginan yang sangat kuat dari setiap mahasiswa. Karena tantangan ini tidak datang dari lingkungannya sendiri akan tetapi dari lingkungan lain juga. Globalisasi, kemudahan akses teknologi saat ini jelas berbeda dengan situasi dan kondisi dijaman saya dulu. Untuk menghubungi orang tua saya saja dulu sulit, sekarang sambil melakukan aktivitas lain kita dapat berkomunikasi dengan orang tua kita. Jadi tantangan mereka lebih besar dalam rangka bertanggungjawab dengan berbagai kemudahan yang ada atas penggunaan teknologi.

Apa ciri khas UKI yang tidak berubah sejak jaman bapak dulu berkuliah?
Sesuatu yang tidak pernah luntur tersebut adalah kekompakkan dan kebersamaan. Terlebih saling menghormati, khususnya saling menghormati kepada senior adalah sesuatu yang harus dijaga. Karena kita merasa bahwa kita ini satu, tetapi diantara kita harus ada persatuan dan saling menghormati satu dengan yang lain, dan inilah ciri khas UKI yang luar biasa. Karena seketika kita berada dimanapun, kalau ada yang berkata bahwa dirinya UKI itu adalah sesuatu yang istimewa rasanya. Ini bukan berarti negatif, akan tetapi ini adalah bagian dari merasa kebersamaan itu sendiri.
UKI dikenal dengan sikap kritis mahasiswanya dengan peristiwa sosial di sekitarnya. Sebagai orang yang memiliki latar belakang birokrasi dan sering mendapat kritikan, apa pendapat bapak?
Tidak ada beda, dimanapun kita berada kekritisan itu harus tetap melekat. Kendatipun kita sebagai pejabat negara, bukan berarti kekritisan kita harus lunturkan. Kita juga harus kritis, karena kekritisan itulah yang menjadi kekuatan kita. Karena ketika kita menjadi pejabat dan kita menjadi tidak kritis itu adalah hal yang disayangkan sekali. Justru seharusnya ketika kita menjadi pejabat kita bisa lebih kritis lagi. Pemikiran kritis tersebut pun harus konstruktif tentunya.

UKI dikenal sebagai kampus dengan label Kristen, tapi kita juga bisa berbangga karena di UKI kita diajarkan bagaimana menghargai dan menghormati agama yang berbeda dengan kita. Bagaimana pendapat anda dengan adanya sikap diskriminatif terhadap agama ataupun golongan tertentu di luar sana?

Di sinilah diperlukan sikap kritis kita, bagaimana kita memberika pemikiran-pemikiran yang kritis dan konstruktif. Itu pun kembali kepada diri kita, bagaimana kita mampu memaknai fenomena-fenomena semacam ini dengan baik, artinya kita harus memaknai ini secara cerdas. Di manapun kita berada tunjukkanlah bahwa kita berprestasi, dan prestasi ini kan bukan karena mayoritas minoritas, tetapi prestasi yang berdasarkan dari kemampuan pribadi dari masing-masing kita yang kebetulan dari UKI. Nah ini lah yang harus kita tunjukkan dan nantinya terbentuklah sebuah paham sosial yang tidak ada dikotomi, sehingga masyarakat sendiri yang akan menilai bahwa tidak ada beda antara minoritas ataupun mayoritas. Tunjukkanlah kita adalah orang-orang yang memiliki prestasi, rasa menghormati kepada sesama dan perhatian kepada lingkungan sosial yang besar. Pastinya kita jangan merasa kecil, itu saja.

Sementara itu Agung Laksono, Ketua DPR RI menjelaskan bagaimana apa yang dia dapat dari UKI adalah sebuah pengalaman berharag yang juga punya andil dalam mengantarkannya pada posisi di pemerintahan seperti saat ini. Berikut kutipan wawancara langsusng dengan beliau.

Apa beda kondisi perkuliahan di masa bapak dengan kondisi perkuliahan saat ini? Tentu situasi dan kondisinya jauh berbeda, universitas tidak sebanyak sekarang dan tentunya persaingan pun semakin ketat. Sekarang ini universitas baik di Jakarta maupun daerah semakin bertumpuk dan inilah yang membuat ketatnya persaingan. Persaingan ini pun menuntut agar kita melakukan usaha-usaha memperbaiki diri supaya tidak tenggelam.

Apa ciri khas UKI yang tidak berubah sejak jaman bapak dulu berkuliah?
UKI adalah sebuah universitas yang berlandaskan agama Kristen, tetapi sangat memberikan peluang atau tempat yang sama kepada semua golongan, agama lain. Pluralitas, kemajemukkan, dan inilah yang harus dipertahankan untuk membangun UKI.

Apa bekal dari UKI yang menghantarkan bapak pada posisi seperti saat ini?
Kita berada di sini sejak awal diajarkan bagaimana menghadapi tantangan, kuliah di UKI itu banyak tantangannya. Setahu saya sampai saat ini susasana demokrasi itu diajarkan di lingkungan kampus.

UKI dikenal dengan sikap kritis mahasiswanya dengan peristiwa sosial di sekitarnya. Sebagai orang yang memiliki latar belakang birokrasi dan sering mendapat kritikan, apa pendapat bapak?
Saya bangga dengan keberanian mereka dalam memberikan pandangan ataupun kritik. Tetapi saya harus ingatkan bahwa dalam memberikan kritik atau saran setiap mahasiswa harus menyampaikan dalam koridor demokrasi kita (jnd).