UKI Lepas mahasiswa NIAS

Gempa Nias yang terjadi pada tanggal 28 Maret 2005 telah memporak porandakan hampir seluruh pulau Nias, baik secara materi maupun nonmateri. Bencana alam yang dahsyat itu telah mengakibatkan kerusakan pada banyak sendi kehidupan di Nias, sebagai imbas dari rusaknya fasilitas umum seperti jalan raya, jembatan, tiang listrik, gedung pemerintah, sekolah, pasar dan fasilitas lainnya. Jika tidak segera ditangani, Nias bisa terancam dan semakin tertinggal jauh dari daerah lainnya di Indonesia. Pemda dan masyarakat tentu tidak cukup mampu membangun kembali keseluruhan aspekkehidupan yang dimaksud. Karena itu dibutuhkan partisipasi dari semua pihak untuk mengatasi setiap hambatan yang ada.
Berawal dari gagasan kecil di bulan Mei 2005 di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Kristen Indonesia, untuk membantu Nias. Gagasan ini mendapat restu dari dekan FKIP UKI dan didukung sepenuhnya oleh sahabat – sahabat dari Gerakan Kemanusiaan Indonesia. Dibulan Juni 2005 gagasan ini dipresentasikan di hadapan rektor UKI dan pimpinan fakultas. Ide bantuan studi untuk Nias ini dalam beberapa saat mengkrucut hingga diformulasikan oleh rektor UKI menjadi program terpadu berskala universitas dengan membentuk Panitia Pengabdian UKI untuk Nias sebagai pelaksana operasional.
Pekerjaan kemanusiaanpun dimulai, dari 1660 calon mahasiswa yang akan dikuliahkan di UKI diseleksi yang dinyatakan dapat diterima oleh UKI adalah 147 orang. Dari jumlah ini yang mendaftarkan diri sebanyak 125 orang namun kemudian hadir di UKI sebanyak 123 orang. Mereka semua resmi diterima di UKI sebagai mahasiswa baru tahun akademik 2005/2006. Sejumlah mahasiswa ini tersebar ke barbagai fakultas yang ada di UKI , seperti FKIP, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Ekonomi, Fakultas Teknik dan Fakultas Hukum.
Menurut rektor UKI, ir. Maruli Gultom, bantuan yang diberikan UKI ini adalah bagian dari UKI untuk mengisi kemerdekaan yang telah berusia 64 tahun. Karena yang bisa membangun daerah, adalah orang daerah sendiri. Sesibuk apapun departemen pendidikan, sebaiknya SDM nya yang disiapkan, ujar rector lagi.
Dalam perjalanan waktu dari jumlah 123 orang ini dengan berbagai alasan dan pertimbangan sejumlah mahasiswa tidak lagi menjadi bagian dari Program Bantuan. Pada akhirnya hingga tahun ajaran 2008/2009 jumlah mahasiswa yang menjadi tanggungan UKI adalah 92 orang. Ada beberapa yang menggembirakan dari para mahasiswa Nias ini, diantara mereka ada yang sempat mengukir prestasi saat berkuliah di UKI. Hal ini ditunjukkan oleh Situjuh Nazara yang telah menjadi mahasiswa berprestasi pada kopertis wilayah tiga Jakarta pada bulan Mei 2009. Prestasi yang sama juga ditunjukkan oleh Darman Sarumaha yang menjadi tim debat Fisipol UKI dan meraih juara III pada kompetisi Lomba Debat Pemilu Preside dan Wakil Presiden 2009-2014 antar mahasiswa se-Jawa.
Tanpa terasa empat tahun telah berlalu, diantara 92 mahasiswa Fisipol tersebut 74 orang diantaranya telah menyelesaikan pendidikannya di UKI. Mereka sekarang siap mengabdikan diri bagi pembangunan di Nias. Dalam kurun waktu empat tahun tidak sedikit hambatan dan kendala menghadang mereka. Ada beberapa dari mereka karena alasan prestasi akademik tidak dapat melanjutkan pendidikannya dan beberapa lainya karena beberapa alasan juga tidak dapat melanjutkan studinya. Dengan penuh rasa syukur tanggal 14 September yang lalu UKI dan mahasiswa Nias akan melaksakan ibadah syukur yang sekaligus melepas 74 mahasiswa asal Nias ke tengah masyarakat Nias. Mereka diharapkan akan diterima oleh diterima Pemerintah Daerah setempat pada tanggal 20 September 2009 setelah melakukan perjalanan laut.
Menanggapi kepulangan mahasiswa asal Nias ini, Nofidawati Laia yang sukses meraih gelar sarjana kependidikan di bidang biologi ini bertekad untuk kembali ke Nias dan membangun Nias dengan profesinya menjadi guru. Banyak hal yang dia dapat selama kuliahnya di UKI. Hal yang sama dikemukakan oleh Nisara Sihura, yang memang sejak kecil bercita – cita menjadi guru. Nisara sangat bersyukur kepada Tuhan kalau dia dapat berkuliah di Jakarta, khususnya di UKI. Nisara bertekad untuk membangun kembali tanah asalnya dengan profesinya sebagai guru kimia.