Visi Kampus untuk Energi Terbarukan

  Fakultas Teknik Mesin Universitas Kristen Indonesia menciptakan reaktor sederhana penghasil minyak tanah.

energiterbarukan.jpg

Tidak ada yang mubazir di dunia. Itulah yang dipegang Fakultas Teknik Mesin Universitas Kristen Indonesia (FTM-UKI) dalam mengembangkan teknologi terapan yang bervisi energi terbarukan secara mandiri.

 

Berangkat dari kenyataan bahwa konsumsi minyak tanah di Indonesia mencapai 12 juta kiloliter per tahun, FTM-UKI menciptakan reaktor untuk menghasilkan bahan bakar yang masih menjadi primadona rumah tangga di Indonesia. Bahan baku tentu berasal dari minyak jelantah yang selama ini kerap dibuang begitu saja. Padahal, dalam catatan Departemen ESDM, sedikitnya 6-7 juta kiloliter minyak jelantah bekas pakai di Indonesia dibuang begitu saja.

 

Reaktor itu kemudian menghasilkan FAME (Fatty Acid Methyl Esther) yang memiliki sifat kimia layaknya minyak tanah. Bahan bakar ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar dua peralatan yang masih menjadi kebutuhan banyak masyarakat pedesaan yakni kompor tekan dan lampu petromaks.

 

”Ide pembuatan reaktor ini karena sebagian besar rumah tangga di Indonesia, khususnya pedesaan masih menggunakan minyak tanah,” ujar Zico Hutapea, mahasiswa FTM-UKI angkatan 2007 yang juga penggagas reaktor FAME. Dengan teknologi ini, harga minyak tanah yang kini di kisaran Rp 8 ribu – 9 ribu per liter dapat ditekan menjadi Rp 4 ribu per liter.

 

Cara kerja reaktor FAME ini bersifat sederhana. Minyak jelantah dimasukkan ke dalam reaktor (ruang reaksi) untuk dilakukan esterifikasi, kemudian dipanaskan  untuk memisahkan spiritus dan kandungan air (destilasi). Spiritus ini yang kemudian diambil sebagai bahan bakar atau yang disebut FAME tadi. Sejauh ini, bahan bakar alternatif ini baru dapat dimanfaatkan untuk kompor tekan dan lampu petromaks karena komposisi pembakarannya masih terus disempurnakan.

 

Biaya reaktor yang telah dikembangkan sejak tiga tahun silam ini juga cukup ekonomis. “Tidak sampai Rp 1 juta, karena memanfaatkan barang-barang bekas, seperti besi bekas dan kaleng bekas,” ungkap Ezra Bukit, rekan Zico dalam tim penelitian tersebut. Pemanfaatan barang bekas tadi juga berhubungan dengan misi agar teknologi terapan ini nantinya dapat dibuat secara mandiri dalam lingkup rumah tangga atau keperluan home industry.

 

Selain FAME, reaktor itu juga menghasilkan output berupa gliserin yang dapat dimanfaatkan sebagai campuran bahan baku pembuatan lilin. Penemuan ini telah diikutsertakan dan disosialisasikan dalam “Kompetisi Cipta Bahan Bakar Alternatif” yang diselenggarakan Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta pada 17-18 Maret silam. Selain Zico Hutapea dan Ezra Bukit, anggota tim pengembangan reaktor FAME terdiri dari Francisko Sirait, Chandra Marbun dan Parlindungan Saragih.

 

Pada kesempatan tersebut, tim FTM-UKI juga telah menyosialisasikan bahan bakar FAME kepada beberapa pedagang dan rumah tangga di Surakarta yang masih memanfaatkan kompor tekan dan lampu petromaks untuk menjalankan aktivitasnya sehari-hari.