Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Kristen Indonesia, Sabtu (23/10), mengadakan workshop dan open house pusat belajar dan pelatihan anak berkebutuhan khusus.
Seminar yang dimulai sejak pukul 9 pagi ini ditujukan untuk berbagi pengetahuan dan pembelajaran bagi para guru, orang tua, maupun psikolog yang ingin menambah wawasannya mengenai dunia anak khususnya anak berkebutuhan khusus.
Dalam paparan makalah Ayo mengenal anak berkebutuhan khusus, Melda Simorangkir menerangkan, anak berkebutuhan khusus (ABK) ialah mereka yang menderita cacat fisik, keterbelakangan mental, celebral palsy, gangguan pemusatan perhatian, autis, kesulitan belajar, dan epilepsi. Umumnya mereka adalah anak yang butuh oerhatian lebih dari orangtua dan juga saudara yang lain seperti saudara kandung, ataupun guru/tenaga pengajar di sekolah.
“Namun, orangtua perlu menyadari kebutuhan, pemikiran, perasaan saudara sekandung (sibling) ABK. Seringkali mereka juga memiliki rasa malu, rasa bersalah, merasa sendirian, marah dan kesal karena ada perbedaan pola asuh dari orang tua terhadap dirinya dibanding dengan saudara kandungnya yang dianggap ABK,” papar Direktur pelaksana pusat belajar dan pelatihan ABK yang bertempat di lantai 2 UKI Cawang, di depan puluhan peserta.
Menurutnya orang tua perlu menyadari ciri-ciri anka berkebutuhan khusus. Mulai dari tingkah lakunya yang pendiam, ceroboh, sulit diarahkan, pelupa, hiperaktif dan hal-hal yang berbeda disbanding anak-anak pada umumnya.
Sementara itu, menurut Dharmawan salah satu pembicara dalam seminar itu menuturkan, dari segi kedokteran anak berkebutuhan khusus ini mengalami berbagai gangguan, terutama karena faktor fisiknya. Faktor penyebab anak dikatakan sebagai ABK disadari karena cacat fisik yang dialami sejak ia kecil, bahkan sejak masih di kandungan ibunya.
Psikiatris ini memaparkan beberapa penyebabnya dapat dipengaruhi karena factor saraf motorik yang menyebabkan anak bergerak secara lambat, pola pikirnya pun lambat. Ini mengakibatkan juga terhadap kemampuan anak dalam membaca, berhitung, mengingat, dan berbagai dampak lainnya.
Selain itu, pengaruh virus yang menjangkiti ketika anak masih dalam kandungan ibunya juga dapat menyebabkan anak cenderung mengalami keterbelakangan mental dan fisik. Dapat ditemui dalam lingkungan sekitar terdapat anak yang mengalami gangguan ini. Ia pun menegaskan sekitar 9,5 persen siswa sekolah dasar (SD) mengalami kondisi tersebut.
Dharmawan menilai orangtua dan guru yang mengajar dan membimbing mereka dengan perhatian khusus. “Tapi, jangan sampai kurang memperhatikan anak normal. Orangtua perlu membagi waktu dan perhatia secara adil pula. Dan kalau memang butuh, sesekali jika orang tua menemui gejala ini pada anaknya, agar jangan sungkan untuk membawanya kepada psikiater,” ujarnya.
Adanya kondisi anak berkebutuhan khusus, FKIP UKI pun mendirikan Pusat Belajar dan Pelatihan Anak Berkebutuhan Khusus untuk membantu bagi para orang tua maupun guru untuk mendapat informasi mengenai ABK. (red)
