Bahasa dan sastra merupakan bagian erat dengan kebudayaan termasuk kebudayaan Indonesia. Sebagai bangsa yang memiliki beranekaragam bahasa dan kesusastraan, sudah sepatutnya masyarakat Indonesia pun harus bangga dan berupaya untuk memeliharanya.
Namun, sayangnya rasa bangga ini dirasakan sudah mulai menurun. Kecintaan akan bahasa dan sastra di daerah pun mengalami sedikit penurunan yang dapat berakibat pada kepunahan. Demikian yang disampaikan oleh Dekan Fakultas Sastra Universitas Kristen Indonesia (UKI) Fajar S. Roekminto dalam sambutannya pada pembukaan Kemah Sastra 2010 di SMAN 1 Gadingrejo, Lampung, Kamis (28/10).
Ia mengungkapkan, kemah sastra yang pertama kali digelar di Lampung itu ialah untuk menumbuhkan rasa kecintaan generasi muda terhadap bahasa nasional dan bahasa daerah. “Pelajar memang sangat berpotensi dalam perkembangan dan kelestarian budaya termasuk bahasa. Mereka perlu didukung dan didorong untuk cinta akan bahasa dan sastra ini. Oleh karena itu acara ini mengangkat tema Cinta Bahasa dan Sastra,” tuturnya.
Ia mengatakan, menurunnya kebanggaan dan kecintaan kaum muda termasuk pelajar bisa saja disebabkan karena kurangnya pemahaman mereka akan pentingnya melestarikan bahasa dan sastra ini. Pemahaman ini dapat disebabkan pula karena kurang menyadari keberadaan bahasa dan sastra daerahnya. Seiring dengan itu, rasa bangga dapat saja ditumbuhkan dengan pengenalan akan budaya asing.
Sementara itu, hal lain juga disampaikan Asisten III Sekretaris Provinsi Lampung Arinal Djunaidi dalam sambutannya yang mewakili Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. saat membuka Kemah Bahasa dan Sastra SMA se-Provinsi Lampung di SMA Negeri 1 Gadingrejo, Pringsewu.
Menurutnya Indonesia kini memiliki 612 dari 746 bahasa daerah yang masih aktif dipakai oleh masyarakat. Namun, karena jarang dipakai dalam pergaulan sehari-hari, bahasa daerah itu lambat laun akan punah akibat kurangnya upaya tumbuhkembang kecintaan budaya Indonesia.
Ia memaparkan sekitar 100 bahasa daerah terancam punah. Bahkan, sekitar 14 bahasa daerah dinyatakan telah punah. Ia menerangkan abad ke-21 bahasa daerah mungkin tinggal 10 persen yang bertahan. Selebihnya hampir dinyatakan punah. “Punahnya bahasa ini menandakan punahnya juga kebudayaan yang ada,” ungkap Arinal.
“Perlu upaya untuk melestarikan budaya ini dengan pembelajaran di sekolah-sekolah. Kita harus sama-sama menjaga agar bahasa Lampung harus tetap terpelihara," tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Bupati Pringsewu Sudarno Eddi menerangkan penggunaan bahasa Indonesia sebagai sarana berkomunikasi terutama di kalangan generasi muda kini terasa telah sangat berkurang. Demikian juga dengan penggunaan bahasa daerah dan kecintaan akan sastra dearah yang kian dikesampingkan. "Sebagai pemilik, kita harusnya bangga akan bahasa dan sastra di Lampung. Ini harus kita jaga sebagai harta yang tak ternilai," kata Sudarno.
Sementara itu, Kepala SMA Negeri 1 Gadingrejo Hermin Budiarsi dalam sambutannya mengungkapkan bahwa sastra memiliki peran penting untuk menemukan kembali identitas kebangsaan serta menguatkan karakter jiwa muda.
Lebih dari 40 SMA dengan 300-an siswa mengikuti kegiatan kemah sastra tersebut. Berbagai acara dari seminar, diskusi, pertunjukan tarian, musik, film, mewarnai kemeriahan acara yang berlangsung selama 3 hari, 28-30 Oktober.
Dalam salah satu sesinya peserta berdialog langsung dengan dua pembicara, yaitu First Secretary Kedutaan Besar (Kedubes) Palestina Taher Hamad, Pelaksana Tugas Kerja Sama Pendidikan Bahasa Kedubes Prancis Magali Defleur,
Selain itu, peserta pun mendapatkan pengalaman mengenai sastra dan bahasa melalui dialog terbuka dengan tokoh budaya Arswendo Atmowiloto dan Djajat Sudrajat dari Lampung Post. Tidak hanya itu peserta pun dibekali dalam kelas-kelas tentang sastra seperti penulisan puisi, cerita dengan mengedepankan sastra lisan Lampung.
Melalui pengalaman yang didapat selama acara membuat mereka bersemangat untuk menunjukkan ketertarikan terhadap sastra. Mereka dengan berani menampilkan keahlian kelompoknya seperti bermain musik, menyanyi lagu daerah dan lagu perjuangan, dan acting.
Beberapa pertunjukkan diantaranya menampilkan dengan bahasa asli Lampung. Keberanian ini mereka tunjukkan sebagi bentuk rasa peduli mereka akan budaya bangsa sekaligus sebagi peringatan hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober.
Dalam kemah sastra ini juga menampilkan pentas karya budaya Meksiko yang dimainkan oleh mahasiswa utusan Kedubes Meksiko, Daniel Antonio Milan Cabrera, yang membawakan sebuah lagu berbahasa Spanyol dan sebuah tembang daerah Sunda.
Daniel sangat terkesan dengan penampilan dan antusias peserta menampilkan aksi mereka. Ia menuturkan walaupun hanya baru satu tahun lebih di Indonesia, ia merasa senang dengan budaya masyarakat Indonesia. Daniel berharap ia dapat membagikan pengalamannya di Indonesia ketika ia kembali ke Meksiko.
Hal yang berbeda diungkapkan Friska Friska Syahrini, seorang peserta dari SMA Xaverius Bandar Lampung. Ia mengaku mengikuti kegiatan itu karena tertarik dengan dunia sastra. Dia juga mengaku ingin memperdalam pengetahuan mengenai cara membuat sebuah karya sastra yang bagus. (red)
