Survei dan Politik Indonesia
Survei sekarang ini menjadi hal yang sangat digemari dan sudah menjadi kebutuhan publik. Terbukti dari hasil survei yang dirilis oleh media cetak baik yang berskala nasional ataupun daerah. Tidak ketinggalan media televisi, radio dan social media turut memperbincangkan hasil rilis survei tersebut. Pengamat-pengamat politik, politisi, peneliti menambah hiruk pikuknya survei yang dirilis.
Dibalik itu semua, pernahkan kita sadari bahwa keadaan diatas adalah keadaan yang ada hanya dalam satu dekade terakhir? Pernahkan ada rilis survei yang begitu menyedot perhatian publik di tahun 90an? Jawabannya tentu tidak.
Animo publik ini salah satunya karena survei berhasil menyakinkan masyarakat bahwa hasil survei adalah hasil yang bisa dipercaya karena merupakan produk ilmu pengetahuan dengan metodologi yang begitu ketat. Melalui survei masyarakat bisa mengetahui bagaimana persepsi atau pandangan masyarakat Indonesia mengenai sebuah isu. Ini hal yang dahulu susah dilakukan, kecuali dengan metode sensus, yang hanya menyajikan informasi mengenai jumlah penduduk, pekerjaan, dan data-data demografis lainnya yang jarang menyentuh mengenai persepsi, harapan, keinginan masyarakat.
Survei merupakan produk riset berperan sentral dalam pertarungan politik pemilu/pilkada, dan berhasil membantu kemenangan presiden dalam pilplres (2004, 2009), kemenangan 21 gubernur (dari 33 gubernur) dan 50 bupati/walikota. Itu adalah yang tercatat, belum lagi yang tidak tercatat.
Saat ini riset ilmu sosial mempunyai harga ekonomis tinggi yang bersedia dibayar oleh berbagai pihak. Harga sebuah survey mulai dari ratusan juta sampai milyaran rupiah. Hal ini merupakan trend positif untuk semakin mengajak berbagai pihak terutama yang menggeluti riset sosial untuk terus berkarya, karena karyanya selain diapresiasi publik juga menghasilkan pundi-pundi rupiah layaknya penelitian eksakta. Selama ini riset ilmu sosial dinilai kering secara ekonomi dan yang bergelut di dalamnya tidak mendapatkan apa-apa selain hanya kepuasan batin dan nama karena kepedulian terhadap isu sosial.
Atas kemajuan riset yang powerfull ini perlu kiranya kita menjelaskan kepada publik sehingga publik terbuka pengetahuannya terhadap kemajuan riset sosial ini. Banyak publik tidak mengetahui atau belum menyadari kemajuan riset sosial yang dahsyat ini. Institusi pendidikan, lembaga swadaya masyarakat, sampai masyarakat umum perlu untuk diberikan pengetahuan mengenai kemajuan riset sosial ini, agar kemajuan ini semakin teraklerasi karena dukungan publik yang begitu luas.
Universitas Kristen Indonesia (UKI), sebagai institusi pendidikan tinggi menyikapi positif hasil - hasil survey yang dilakukan oleh beberapa kelompok, antaranya Lingkaran Survey Indonesia (LSI). Bagaimanapun juga hasil sebuah survey adalah media pembelajaran bagi masyarakat. Dalam perjalanannya LSI telah berhasil melakukan beberapa hal antara lain :
- Mendemonstrasikan ilmu sosial mampu memprediksi apa yang belum terjadi melalui aneka publikasi dan iklan prediksi hasil pilkada/pemilu.
- Hasil risetnya menarik perhatian publik dengan dimuatnya hasil riset itu di headline halaman satu koran nasional 7x berturut turut (Juni – Oktober 2011).
- Membuat riset berperan sentral dalam pertarungan politik pemilu/pilkada, dan berhasil membantu kemenangan presiden dalam pilplres (2004, 2009), kemenangan 21 gubernur (dari 33 gubernur) dan 50 bupati/walikota.
- Membuat riset ilmu sosial punya harga ekonomis tinggi yang bersedia dibayar aneka pihak swasta. Selama ini riset ilmu sosial dinilai kering secara ekonomi.
Melihat prestasi diatas, tidaklah berlebihan jika UKI menyambut tawaran LSI untuk mengadakan beberapa kerja sama dalam bidang riset. Perjanjian kerjasama tersebut telah ditandatangani Jumat 25 Nov 2011, di gedung rektorat UKI.
