Sambutan Rektor UKI, Maruli Gultom, Dalam Peringatan
Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan R.I. Ke 66.
di Universitas Kristen Indonesia.
Saudara saudari, para dosen, karyawan, dan mahasiswa Universitas Kristen Indonesia.
Hari ini kita memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dalam suasana bangsa yang memilukan. Setelah 66 tahun merdeka, kita dan lingkungan kita, masih terus dipenuhi kecemasan akan hari hari di depan kita. Setelah 66 tahun merdeka, masih banyak sanak famili dan saudara sebangsa yang hidup dalam penderitaan. Perilaku bangsa dari waktu ke waktu semakin memburuk, membuat keadaan semakin lama semakin parah. Kemiskinan dimana mana. Kelaparan yang ditutup tutupi di berbagai daerah, balita yang kekurangan gizi, lumpuh layun di desa desa, pengangguran yang semakin membengkak. Bak ayam mati di lumbung padi, kemiskinan di negeri yang kaya ini telah membunuh ratusan, mungkin ribuan bayi karena tak cukup gizi. Jutaan anak putus sekolah karena orang tua tak mampu.
Tuhan telah menganugerahkan Bumi Pertiwi nan subur dan kaya raya bagi bangsa Indonesia. Namun selama enampuluh enam tahun merdeka, kita hanya mampu menghabisi kekayaan bumi yang dianugerahkan Tuhan tersebut tanpa memberi kesejahteraan bagi bangsa. Hutan di Kalimantan ditebang habis, tetapi rakyat di pedalaman Kalimantan hanya kebagian banjir dan tetap hidup miskin. Berpuluh tahun minyak disedot habis habisan dari perut bumi Lancang Kuning – Riau, namun sebagian besar rakyat Riau hidup dibawah kemiskinan. Emas dan tembaga digaruk dengan rakus dari Tanah Papua dan diangkut ke negeri Paman Sam. Namun rakyat Papua tetap hidup dalam keterbelakangan.
Aneh tapi nyata, pajak dan bagi hasil dari eksploitasi kekayaan alam yang luar biasa tersebut tidak membawa kesejahteraan kepada rakyat Indonesia. Pendapatan negara yang semakin membesar menguap tak berbekas. Praktik suap, komisi, korupsi, dan manipulasi telah memperkaya luar biasa para pemimpin, namun mengakibatkan kemiskinan tiada tara bagi rakyatnya.
Sementara rakyat di negeri tetangga, Singapura, Malaysia, Thailand, tanpa kekayaan alam yang berarti dapat tumbuh lebih sejahtera, masyarakat kita menjadi semakin miskin. Enam puluh enam tahun merdeka, bangsa Indonesia tetap melarat, adalah KEGAGALAN YANG LUAR BIASA.
Sivitas akademika UKI yang saya hormati,
Perilaku korup bangsa Indonesia selama 66 tahun merdeka telah sangat memiskinkan rakyat di negeri sangat kaya ini. Karena itu Undang Undang Anti Korupsi telah mendefinisikan bahwa tindak korupsi adalah KEJAHATAN LUAR BIASA, dan karena itu harus ditanggulangi secara luar biasa pula.
Lain di mulut lain di hati. Adalah fakta bahwa hukuman yang dikenakan kepada pelaku tindak korupsi, yang dikategorikan sebagai KEJAHATAN LUAR BIASA, ternyata biasa biasa saja, bahkan lebih ringan dibanding hukuman yang dijatuhkan kepada pelaku kriminal biasa. Ini mengindikasikan bahwa lembaga hukum dan peradilan kita adalah bagian dari masalah korupsi itu sendiri.
Kita memang harus belajar ke negeri Cina. Tanpa menciptakan istilah dan definisi yang hebat hebat, Cina menghukum MATI semua koruptor di negeri itu.
Kawan kawan seperjuangan, seluruh sivitas akademika Universitas Kristen Indonesia,
Kita memang sedang berperkara dengan Tuhan. Kita sedih menyaksikan bagaimana seorang koruptor dielu-elukan bak pahlawan dan menerima berbagai jabatan terhormat di masyarakat setelah keluar dari penjara hanya karena sang koruptor rajin membagi bagikan uang hasil korupsinya. Betapa ironis, nilai nilai yang menghargai kejujuran semakin luntur tergerus oleh sifat materialistis yang semakin menjangkiti masyarakat kita.
Pemburukan karakter bangsa haruslah menjadi perhatian dan kepedulian kita sebagai bagian dari masyarakat intelektual bangsa. Di satu sisi masyarakat telah menjadi sangat toleran terhadap tindak korupsi, namun di sisi lain sebagian masyarakat menjadi tidak toleran terhadap perbedaan di dalam kemajemukan bangsa sendiri. Membangkitkan kebencian kepada suku, agama, dan ras lain semakin menggejala, dan dengan mudah dan bebas dilakukan. Sebaliknya, semakin sulit melakukan usaha usaha membangkitkan rasa Kasih dan cinta kepada saudara sebangsa.dan setanah air. Dengan menyebut nama Tuhan, bangsa ini saling bunuh, saling finah, saling bakar, saling rampok. Kita tidak pernah lupa, di Aceh, di Jakarta, di Sampit, Poso, Ambon, Papua, puluhan ribu orang terbunuh oleh kekejaman bangsa sendiri. Ratusan orang yang tak bersalah telah pula terbunuh oleh ledakan bom di berbagai tempat. Kebencian ditebarkan dimana mana, memporak porandakan rasa kesatuan, rasa sebangsa dan setanah air yang bersusah payah dibangun oleh para pendiri Republik ini. Rasa kebangsaan semakin menipis, terkikis oleh nafsu menanamkan pengaruh dan kekuasaan sekelompok pemimpin gadungan. Seolah hanya merekalah pemilik sah Republik ini. Padahal kita semua menyaksikan, Taman Makam para Pahlawan Kemerdekaan Republik Indonesia tersebar di seluruh pelosok tanah air, dari Aceh sampai Maluku, dari Tanah Batak sampai Papua, dari Ternate sampai ke Rote. Ratusan ribu pejuang kemerdekaan gugur dalam pertempuran melawan penjajah Belanda di berbagai tempat di tanah air. Apapun agamanya, apupun sukunya, mereka rela mengorbankan darah dan nyawanya demi memerdekakan bangsa, demi mempertahankan ikrar dan janji setia:
Satu Nusa, Satu Bangsa, satu Bahasa - INDONESIA.
Saudaraku sebangsa dan setanah air,
Universitas Kristen Indonesia adalah miniatur Indonesia. Kita terdiri dari berbagai suku, pemeluk berbagai agama, berasal dari berbagai ras dan latar belakang. Jangan kita biarkan perbedaan itu menjadi perpecahan diantara kita. Ke-aneka-ragam-an itu justru adalah kekuatan kita. Keaneka-ragaman itu memampukan kita beradaptasi dengan lingkungan dimanapun kita berada. Semakin kita beraneka-ragam, semakin kita menjadi cerminan Indonesia yang utuh.
Saudaraku, dimana kita berada, disitulah kita mengabdi kepada bangsa.
Kita patut bersyukur bahwa Tuhan menempatkan kita di Universitas Kristen Indonesia untuk mengabdi kepada bangsa. Melalui universitas ini kita berpeluang untuk berperanan dalam mempersiapkan masa depan bangsa melalui pengamalan keilmuan yang kita miliki, dan melalui para alumnus yang kita didik menurut nilai dan moral kristiani. Marilah kita bekerja lebih giat, mengerahkan segenap kemampuan kita untuk terus mengembangkan UKI tercinta ini menjadi universitas yang bermutu dan berkarakter. Dengan demikian UKI akan mampu mencetak kader kader pemimpin bangsa yang berilmu tinggi, berachlak mulia, menjunjung tinggi nilai nilai kebenaran, keadilan dan kejujuran, yang memiliki tekad bulat untuk mengabdi demi kemajuan bangsanya, mensejahterakan rakyatnya.
Kepada para mahasiswa UKI saya mengingatkan, negara membutuhkanmu. Masa yang akan datang adalah kewajibanmu. Bangunlah idealismu semasa mahasiswa, dan peliharalah idealisme itu kelak sebagai seorang sarjana. Hanya dengan idealisme lah negeri ini dapat bangkit kembali.
Jangan pernah terjangkiti penyakit masyarakat yang saat ini sudah sangat parah, yang telah membuat bangsa ini tidak pernah bisa bangkit dari keterpurukannya. Hendaklah kalian teguh selalu, memelihara idealisme keadilan dan kebenaran. Peganglah teguh nilai KEJUJURAN, jangan goyah oleh godaan materi, karena akan tiba saatnya anda menjadi pemimpin. Bersiaplah menjadi pemimpin yang JUJUR dan tidak korup.
Dimana kita berada, disitulah tempat kita mengabdi kepada bangsa.
UKI ADA, UNTUK INDONESIA. Sumbangan pemikiran untuk negara menurut keilmuan yang kita miliki, serta menciptakan alumnus yang berilmu dan bermoral tinggi,sebagai kader pemimpin bangsa, adalah dua bentuk pengabdian kita kepada bangsa, sekaligus pertanggung jawaban kita kepada para pahlawan yang dengan darah dan nyawanya telah merebut kemerdekaan bagi kita.
Sumbangan kita mungkin tidak berarti banyak bagi bangsa yang besar ini. Kita hanya bagian kecil dari bangsa. Tetapi apabila semua bagian bagian kecil bangsa ini mampu menyumbang kepada negara, itulah landasan kokoh kejayaan bangsa kita. Hanya dengan demikianlah kita dapat memberi arti pada kemerdekaan itu, yang ditebus dengan darah dan nyawa para syuhada, para Pahlawan Kemerdekaan kita, yang tidak sempat mengecap nikmat kemerdekaan itu sendiri.
Jayalah UKI ! Jayalah Bangsaku !
Merdeka ! Merdeka ! Merdeka !
Cawang, 17 Agustus 2011.
Maruli Gultom
Rektor
