PELATIHAN KULTUR JARINGAN UNTUK GURU-GURU IPA/BIOLOGI SEJABODETABEK

 SABTU 12 DESEMBER 2009

kulturjaringan.jpg

            Di dalam buku pelajaran Biologi untuk SMA/MA, di Buku Biologi SMP/MTs telah dimuat suatu topik tentang kultur jaringan tumbuahan.  Kultur jaringan tumbuhan adalah sebagai suatu metode atau teknik untuk menanam dan memelihara suatu organ atau potongan kecil organ tumbuhan (embrio, tunas pucuk, akar, daun, bunga serta sel atau jaringan tumbuhan) pada media buatan dalam kondisi aseptis (bebas mikroba). Materi ini merupakan salah satu materi yang menarik dalam bidang Biologi karena siswa akan memahami bagaimana cara menghasilkan tanaman dengan jumlah banyak dengan kualitas yang baik  (tidak kalah dengan tanaman Thailand) serta  dengan waktu yang relatif singkat. Dengan mempelajari kultur jaringan tanaman juga diharapkan siswa makin mencintai kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia.

Banyak anggapan guru-guru IPA/Biologi bahwa untuk dapat melakukan praktek kultur jaringan  disekolah sekolah sangat sulit atau bahkan tidak mungkin, karena ada anggapan bahwa kultur jaringan tanaman membutuhkan biaya yang sangat besar dan peralatan yang canggih yang mengakibatkan guru enggan untuk mendalami atau berkreasi. Sebenarnya kultur jaringan sangat mungkin dilakukan disekolah mulai tingkat SMP dan SMA, tetapi diperlukan kreativitas dari guru atau siswa untuk mencari alternatif bahan atau alat yang mahal atau tidak ditenmukan disekolah misalnya untuk mengganti autoklaf dapat digunakan dandang, untuk araang aktif dapat digunakan norit, dll. Untuk memfasilitasi guru-guru tersebut prodi Biologi mengadakan pelatihan kultur jaringan untuk guru-guru IPA/Biologi sejabodetabek. Pelatihan ini dihadiri oleh 40 orang  guru yang berasal dari 35 sekolah. Sebagai Key note speaker adalah Dr Susiani Pubaningsih DEA (Pakar Kultur Jaringan UI). Pelatihan dimulai dengan pengenalan tentang kultur jaringan tanaman dan diikuti dengan praktikum. Pada saat penyajian materi dan praktikum peserta sangat antusias.

 


Akademi Fisioterapi (AkFis) UKI yang berdiri otonom sejak tahun lalu untuk pertama kalinya mengadakan kerjasama pendidikan dengan Persekutuan Pelayanan Kristen untuk Kesehatan di Indonesia (Pelkesi) wilayah II. Acara penandatanganan kerjasama ini dilaksanakan pada Jumat 15 Januari 2010 bertempat di Ruang rapat I Pelkesi RS PGI Cikini Jalan Raden Saleh 40 Jakarta, dengan penandatangan MOU Dr.med. Abraham Simatupang, dr., MKes., sebagai direktur AkFis UKI, dan Dr. Jongguk Naiborhu, SH, M.Kes., sebagai Ketua Umum pelkesi Wilayah II.


Kerjasama ini berisi mengenai sarana dan prasarana yang dimiliki Pelkesi wilayah II agar dapat dimanfaatkan secara baik oleh mahasiswa dan lulusan akFis sebagai lahan pekerjaan dan praktek langsung sebagai aplikasi dari ilmu fisioterapis yang sudah didapat selama perkuliahan.


Dalam wawancara seusai acara, direktur AkFis Dr.med. Abraham Simatupang, dr., MKes., yang akrab disapa Pak Bram mengungkapkan bahwa kerjasama ini sangat penting dan vital untuk merealisasikan program AkFis terutama terhadap pemberdayaan mahasiswa dan lulusannya “Tujuan kerjasama ini kami anggap sangat strategis, supaya ada motivasi yang baik dalam proses belajar mengajar dan setelah lulus minimal mendapat lahan pekerjaan geografis dan strategis yang dinaungi oleh Pelkesi, sekaligus sebagai promosi rekruitmen mahasiswa baru untuk memperlihatkan bahwa lulusan AkFis sangat terjamin masa depannya” ujarnya.


Dr. Jongguk Naiborhu, SH, M.Kes., Ketua Umum pelkesi Wilayah II pun menambahkan bahwa pada nantinya para mahasiswa dan lulusan dari AkFis diharapkan dapat mempergunakan kesempatan dalam kerjasama ini sebagus mungkin yabg memungkinkan terciptanya pemberdayaan didalam lapangan pekerjaan khususnya dalam ladang pelayanan “Saya berharap kerjasama ini dapat saling menguntungkan bersama-sama. Karena mahasiswa dan lulusan AkFis dapat berinteraksi secara langsung dalam prakteknya sebagai fisioterapis dan juga Rumah Sakit yang pastinya membutuhkan tenaga-tenaga sebagai mitra kerja pelayanan kesehatan”.


AkFis sendiri adalah lembaga pendidikan UKI yang sejak medio September 2009 berdiri otonom, setelah selama 25 tahun dibawah Fakultas Kedokteran UKI. Lembaga ini melahirkan  para ahli fisioterapis bersifat pelayanan, sebagai tenaga penunjang seperti perawat. Ruang lingkupnya adalah membantu rehabilitasi pada pasien pasca stroke, pasca operasi.dan trauma yang antara lain harus difungsikan kembali fungsi ototnya, terutama juga pada anak2 dengan kelainan alat gerak. Selain itu pula mereka bisa menjadi pendamping atlit olahraga dan fitness dalam menjaga dan menstabilkan kembali fungsi otot dan gerak.


Persekutuan Pelayanan Kristen untuk Kesehatan di Indonesia (Pelkesi) wilayah II yang berkantor di RS PGI Cikini sendiri adalah persekutuan pelayanan kesehatan bersifat nirlaba yang beranggotakan lembaga pelayanan, yayasan, dan rumah sakit yang mempunyai niat di dalam pelayanan. Pelkesi tersebar diseluruh Indonesia dengan lima wilayah tersebar. (Nial)