Melangkah Jauh, Mencerdaskan Pendidikan di Bumi Pertiwi

Saat ini profesi pendidik merupakan profesi yang menjanjikan. Kompetensi dan profesionalisme pun dituntut dari sang pahlawan tanpa tanda jasa itu. Mereka akhirnya  ramai-ramai meningkatkan kualitas diri. 

Hal ini terjadi sejak disahkannya Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen yang pada salah satu butirnya berbunyi demikian,”dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya guru memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimal dan jaminan kesejahteraan sosial yang sangat memadai”. 

Ke depan, profesi guru  dan dosen ini akan menjadi pilihan yang sama dengan profesi lainnya, seperti dokter, akuntan, insinyur, advokat, dan notaris bagi banyak generasi muda. Namun demikian, profesi ini harus juga dibarengi dengan kompetensi profesionalisme yang harus dimiliki masing-masing pendidik.

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka profesi pendidik ini selalu ditingkatkan melalui pelatihan-pelatihan guru dalam jabatan, pendidikan lanjutan, adanya organisasi profesi, sehingga akan terjadi peranan berantai dari organisasi profesional keguruan yang meliputi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diharapkan dapat memberikan dampak peningkatan mutu dan kualifikasi guru. Guru yang berkompetensi dan profesional dituntut dapat menyesuaikan perkembangan zaman.

Kompetensi guru itu antara lain dibuktikan dengan sertifikat pendidik mulai dari pendidikan di jenjang strata satu atau diploma empat dan juga pendidikan profesi yang nantinya memperoleh sertifikat pendidik. Selain itu para pendidik ini pun saat ini mulai ramai-ramai mengambil program S2 di bidang pendidikan guna meningkatkan profesionalitasnya.

Seperti halnya di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Patimura Ambon,  minat mahasiswa memilih kuliah di fakultas tersebut dari tahun ke tahun terus meningkat. Hal tersebut disampaikan Dekan FKIP, Drs. Patrixius Rahabau, M.Si, dalam percakapannya via telepon, Jumat (26/8) lalu.

“Merupakan sebuah hal yang amat menggembirakan. Motif para mahasiswa masuk ke FKIP pun buka semata-mata motif ekonomi, akan tetapi yang paling penting adalah motif pengembangan profesi. Terpenting lagi sebuah panggilan untuk menjadi guru,” tegas Patrixius.

Patrixius juga menambahkan bahwa fakta membuktikan bahwa dari hasil sertifikasi guru, kinerjanya “memprihatinkan” publik jua. Dan ini merupakan sebuah tantangan bagi masyarakat pendidik di bumi Maluku termasuk juga FKIP Universitas Patimura untuk bagaimana meng-create program yang nantinya membentuk kepribadian calon-calon guru ini sehingga ke depan, profesi ini betul-betul menjanjikan sekaligus secara perlahan menghilangkan citra buruk dari masyarakat yang berpandangan miring terhadap profesi ini.

Trend yang berkembang lanjut Patrixius, saat ini minat melanjutkan studi di program tersebut terus membludak dan  tujuan utamanya adalah untuk peningkatan kompetensi profesionalisme dan bukan pada hal-hal yang sifatnya kesejahteraan semata.

Meningkatnya trend tersebut juga diharapkan Patrixius, juga dapat diikuti dengan perubahan pola pikir, perilaku dalam rangka meningkatkan mutu. Pemerintah, diharapkan juga ada kesamaan presepsi dan wawasan terhadap terhadap profesi pendidik sehingga fungsi pengawasan dan pengendalian dapat dioptimalkan. Reward dan punishment juga mesti diberikan sehingga dapat memberi efek jera bagi para pendidik yang secara nyata hanya menjadikan sertifikasi guru sebagai kesempatan perbaikan nasib, dan peningkatan kesejahteraannya.

Terpenting menurut dia adalah peningkatan wawasan, mutu, profesionalisme mereka sehingga mutu pendidikan yang selama ini masih diperlukan masyarakat, secara perlahan diperbaharui. 

Cetak Tenaga Andal 

Terkait dengan kebutuhan peningkatan sumber daya manusia khususnya guru dan dosen di provinsi kepulauan Maluku, FKIP Universitas Patimura sebagai fakultas yang memberi kesempatan kesempatan bagi para mahasiswa baru maupun para guru untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang strata satu maupun strata dua. Khusus untuk strata dua, mengingat sumber daya manusia yang saat ini masih sangat minim, FKIP Universitas Patimura menurut Patrixius, bermitra dengan Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta untuk membuka program magister untuk program studi administrasi dan manajemen pendidikan yang perkuliahannya dilaksanakan di kampus FKIP Ambon.

UKI Jakarta menjadi pilihan kata dia, karena UKI merupakan salah satu universitas penyelenggara magíster program studi adminsitrasi dan manajemen pendidikan berperingkat A. Harapan Patrixius, melalui kemitraan ini terjadi share tenaga dosen dengan pihaknya. Saat ini Universitas Patimura telah memiliki dua guru besar dalam bidang manajemen pendidikan dan tahun depan akan memiliki sekitar 14 doktor dalam bidang keilmuan tersebut. Kemitraan ini dinilai dia dalam jangka panjang akan terjadi evolusi  sehingga diupayakan bisa mandiri tentunya masih dalam kerangka pembinaan dari UKI Jakarta.

Menyangkut kerjasama ini Direktur Pascasarjana UKI Jakarta, Dr. Dhaniswara K. Harjono, SH, MH, MBA menjelaskan bahwa UKI bertindak sebagai pengampuh atau pembimbing bagi FKIP Universitas Patimura. Satu-satunya universitas swasta yang mengampuh universitas negeri.

UKI menurut Dhaniswara, mulanya memperkenal program dan tenaga pengajar pada program tersebut kepada pihak Universtas Patimura yang pada akhirnya mereka bersedia bekerjasama dengan UKI Jakarta. Dan, Universitas Patimura merupakan pilot project UKI mengampuh dalam rangka meningkatkan kualitas para pendidik dengan mengambil program magister program studi administrasi dan manajemen pendidikan.  Magister, menurut Dhaniswara, merupakan pendekar sehingga UKI Jakarta dalam hal ini bertanggungjawab mempersiapkan pendekar-pendekar andal di bidang pendidikan yang berkualitas. Dengan demikian, kualitas pendidikan di bumi Maluku pun dari waktu ke waktu menjadi lebih berkualitas dan bagus. Sebagai pengampuh, secara bertahap kata Dhaniswara, akan melepas FKIP Universitas Patimura untuk mandiri dan tidak boleh lebih dari lima tahun sebagai pengampuh. Tentunya kata dia setelah melihat kemampuan  dan kualitas para dosen,  mahasiswa dan prasarana pendukung sebagaimana program yang mereka dapatkan.    

Ditambahkan Sekretaris Pascasarjana UKI Jakarta, Lisa Gracia Kailola, S.Sos, M.Pd, rencananya kuliah perdana untuk angkatan pertama hanya satu kelas berjumlah sekitar 30 orang akan berlangsung pada Senin, 5 September mendatang di kampus Universitas Patimura Ambon. Angkatan kedua rencana dibuka Februari 2012. Bentuk perkuliahannya sendiri jelas Lisa yang juga menangani bidang kerjasama UKI Jakarta, secara tatap muka untuk 11 mata kuliah yang dijadwalkan empat semester dengan dosen mengajar 16 kali pertemuan. Untuk kerjasama ini 6 dosen berasal dari UKI Yakarta dan 6 dosen dari Universitas Patimura dimana 2 dosennya merupakan guru besar di bidang manajemen pendidikan.

Keenam dosen dari UKI Jakarta akan mengajar dengan sistem paket dimana akan menghabiskan waktu selama seminggu di Ambon guna memberikan kuliah hingga melakukan ujian akhir semester. Sementara dosen dari Universitas Patimura akan memberi kuliah secara reguler.

Lisa menambahkan lulusan dari program ini diharapkan dapat memiliki beberapa kompetensi yaitu kompetensi utama dimana mereka mampu merancang, mengorganisasikan, melaksanakan, mensupervisi dan mengevaluasi penyelenggaraan program pendidikan dan pelatihan dalam statu lembaga pendidikan secara efektif dan efisien dan memenuhi standar mutu pengelolaan secara total. Kompetensi lainnya yaitu kompetensi pendukung,  para lulusan diharapkan mampu menerapkan berbagai landasan dalam pengembangan program pendidikan dan pembelajaran, mampu menerapkan manajemen sistem informasi dalam pengelolaan dan lembaga pendidikan.  Selain itu, juga mampu menerapkan prinsip-prinsip ilmiah, baik pendekatan secara kualitatif maupun kuantitatif dalam kegiatan pembelajaran, penelitian dan pengabdian lepada masyarakat. Juga, mampu menerapkan prinsip-prinsip ilmiah, baik pendekatan secara kualitatif maupun kuantitatif dalam kegiatan pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Tak kalah pentingnya adalah memiliki kompetensi kepribadian yang dapat menunjang keberhasilan dalam melaksanakan kompetensi utama seperti tekun dan tidak mudah menyerah, menjalin kerjasama dengan berbagai pihak yang terkait dan sebagainya. Ditambahkan Lisa, kerjasama dengan Universitas Patimura Ambon ini tertuang dalam Memorandum of Understanding (MOU) antar universitas  dan Memorandum of Agreement (MOA) yang sifatnya lebih teknis bagaimana pelaksanaan perkuliahan yang ditandatangani antara Direktur Pascasarjana UKI Jakarta dengan Dekan FKIP Universitas Patimura. Sementara MOU ditandatangani Rektor UKI Jakarta dengan Rektor Universitas Patimura Ambon. Melalui MOU ini kata Lisa, tidak tertutup kemungkinan untuk bekerjasama dengan fakultas lainnya yang ada di Universitas Patimura Ambon.

Menurut Lisa, UKI Jakarta telah melangkah maju dengan mengampuh universitas negeri. “Kami datang pada saat memang dibutuhkan dan program tersebut belum ada,”tegas Lisa. Penilik Agama Kristen dari Kementerian Agama RI, Kabupaten Maluku tengah, Provinsi Maluku, Albertina Saily, yang juga mahasiswa Pascasarjana Magíster Program Studi Administrasi dan Manajemen Pendidikan UKI Jakarta merupakan salah satu mahasiswa yang memberikan masukan kepada Universitas Patimura untuk memilih UKI Jakarta sebagai pengampuh. Sebagai langkah awal setelah berdiskusi dengan Kaprodi UKI Jakarta, dia mulai mensosialisasikan ke para guru di daerah-daerah yang menjadi wilayah peniliknya tentang pengalaman kuliahnya. Kurang lebih sekitar 60 orang guru langsung mendaftarkan diri melalui dirinya.  Harapan Albertina, dengan mengikuti kuliah tersebut ke depan mereka dapat merealisasikan pada pekerjaan mereka dengan memiliki kompetensi yang tinggi dan UKI Jakarta sebagai pengampuh dapat membimbing para dosen, para mahasiswa agar setelah lulus nanti mampu bekerja secara profesional dan berkualitas tinggi. (SH)