Header Image

Fakultas Teknik UKI Bahas Sistem Tahan Gempa

 

Masalah kegempaan di Indonesia selama ini telah banyak menimbulkan masalah dan kerugian besar negara kita. Apalagi jika permasalahan tersebut sangat berkaitan dengan akibat  yang terjadi pada konstruksi bangunan-bangunan di Indonesia. “Tentunya resiko yang merugikan akibat gempa haruslah menjadi perhatian bersama terutama dibutuhkan peran pemerintah dalam menanggapi hal ini,” demikian ungkap Pinondang Simanjuntak, Ketua Panitia seminar saat memberikan sambutan pada Seminar Sehari bertema Sistem Struktur Penahan Gempa dan Persyaratan Khusus Untuk Bangunan Tidak Beraturan, Berdasarkan ASCE 7 – 2010 dan SNI 03-1726-2002, di ruang Seminar Universitas Kristen Indonesia, Selasa (27/9).

Seminar yang berlangsung mulai pukul 9 pagi itu, dihadiri oleh Dekan Fakultas Teknik UKI, James Rilatupa beserta jajaran, kalangan peneliti, praktisi, dan juga para mahasiswa, baik dari UKI maupun dari universitas lain.

Josia Irwan Rastandi yang menjadi pembicara sesi pertama, mengatakan, pada dasarnya peraturan berstandar nasional Indonesia (SNI) ini lebih diperuntukkan bagi bangunan-bangunan bertingkat, umumnya lebih tinggi, dan bukan kepada bangunan bertingkat rendah seperti bangunan bertingkat 2 dan semacamnya. “Bagi bangunan bertingkat rendah, jadi tidak perlu mengikuti aturan tahan gempa sebagaimana yang dijelaskan dalam peraturan,” katanya.

Sekarang ini, menurutnya, arsitek tidak mendapat pelajaran seperti mekanika teknik dan fisika mekanika. Ia mengatakan, inilah yang membuat arsitek sekarang kurang qualified dalam hal merancang bangunan tahan gempa. “Ini tantangan para arsitek agar bagaimana mendesain bangunan yang baik dan juga tahan gempa. Penting bagi IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) untuk memperhatikan hal ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Wira Tjong saat memaparkan materi Sistem dan Konfigurasi Struktur Penahan Beban Gempa Berdasarkan Peraturan Gempa USA ASCE 7 – 2010, menjelaskan, ada beberapa sistem struktur yaitu delapan struktur untuk penahan gempa. Kedelapan struktur khusus yaitu Bearing Wall System, Building Frame System, Moment Resisting System, Dual Systems, RC Shear Wall – RC Frame, Cantilevered Column System, Steel Framing System. Pada penggunaan sistem tersebut, menurutnya, tentu didasari dengan adanya parameter dalam menggunakan sistem yang dipakai.

Pada seminar tersebut, Wira Tjong juga membahas materi mengenai Struktur Tak Beraturan (Irregular) dan Studi Kasus Perencanaan Gempa Gedung KBK-FK UKI berdasarkan Peraturan Gempa USA dan Indonesia.

Pinondang Simanjuntak, Ketua panitia acara sekaligus salah satu pembicara menerangkan mengenai Penerapan Peraturan Gempa Indonesia pada Bangunan FK UKI 11 lantai. Selain itu, pembicara lainnya, Essy Ariyuni memaparkan tentang sifat-sifat mekanik batu bata yang belum dimasukkan dalam peraturan gempa Indonesia. 

Seminar yang diselenggarakan atas kerjasama FT UKI dan Pusat Kajian Teknik Gempa Prodi Teknik Sipil FT UKI dengan sejumlah perusahaan, antara lain PT Baskara Prima Sarana, Accasia, Pantonpile, Sumber Makmur Sejahtera Buana, Hyundai – PT Superhelindo Jaya, Nusa Raya Cipta dan PT Hardi Agung Perkasa,  ditutup dengan sesi pembahasan tentang Kajian Hotel Bumi Minang di Padang terhadap Gempa Padang Tahun 2005, 2007, dan 2009 yang disampaikan Suparman Gunara. (OR)