FK UKI Hadir di Tengah Penderitaan Korban Gempa Lombok
last updated 05-09-2018
FK UKI  Hadir di Tengah Penderitaan Korban Gempa Lombok
JAKARTA, Fransiska Lusuba

Gempa bumi mengguncang kawasan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB)  sejak 29 Juli 2018 dengan kekuatan gempa 6,4 Skala Ritcher (SR). Pada 5 Agustus 2018, gempa dengan kekuatan 7 SR yang berpusat di Lombok Utara meluluhlantakkan sejumlah kawasan. Gempa kembali terjadi pada 19 Agustus 2018 berkekuatan 6,9 SR di Lombok Timur. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat ada lebih dari 1000 gempa terjadi selama bulan Agustus 2018.

Wakil Dekan III Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia, dr. Louisa A. Langi, M.Si., MA bersama Tim segera mendatangi lokasi gempa di Lombok dan menjadi tenaga medis di sana sejak tanggal 6 – 10 Agustus 2018. Mereka memberikan pelayanan medis kepada pengungsi korban bencana, terutama beberapa lokasi di Lombok Utara. Lombok Utara merupakan  kawasan paling parah tertimpa bencana. Tim Dokter ini fokus membantu pemulihan trauma pasca gempa khususnya untuk anak-anak di  Lombok Utara. Selain itu, dr. Louisa dan Tim juga memberikan pelayanan medis di Posko Dusun Wadon, Kecamatan Gunung Sari, Lombok Barat. 

Dalam masa tanggap darurat ini, warga tinggal di tenda-tenda terpal. Bangunan rumah, kantor, dan sekolah porak-poranda sehingga membuat warga tidak bekerja selama beberapa hari dan anak-anak tidak dapat bersekolah.

“Tiga hari pertama pasca gempa tgl 6-8 Agustus 2018, kami melayani di halaman Kantor Polres Desa Pemenang. Ada sekitar  500 penderita yang datang dan kebanyakan mengalami luka-luka ringan sampai berat. Hari pertama pasca gempa, beberapa pasien mengalami patah tulang karena tertimpa reruntuhan rumah. Langkah pertama mengatasi patah tulang dengan luka terbuka ialah hentikan pendarahan dengan kain kasa steril lalu balut dengan kain perban supaya tidak bergerak. Lalu, tulang tersebut dilapisi dua sisi dengan papan kecil melewati sendi bagian atas dan bawah lalu dirujuk segera ke Rumah Sakit terdekat,” jelas alumni FK UKI ini. 

Di hari ke lima bertugas, gempa kembali mengguncang Lombok dengan kekuatan 6,5 Skala Ritcher. Saat itu dr. Louisa baru saja sampai di bukit, tepat di depan tenda pengungsi di Posko Dusun Prawira, Desa Sokong, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara. Tentu saja perasaan khawatir dan sedih datang menyaksikan kepanikan pengungsi. Warga berlari berhamburan keluar tenda dengan histeris dan menangis ketika mendengar akan ada tsunami. 

“Saat gempa berhenti, tiba-tiba saya sadar bahwa harus segera menolong para pengungsi yang pingsan. Saya segera naik ke bukit dan meminta satu tenda besar dikosongkan, semua pasien yang pingsan dibaringkan di tempat tersebut. Bagi yang pingsan dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk membuat mereka sadar. Lalu, saya mengobati serta mendampingi sampai merasa aman. Saya berdoa kepada Tuhan agar diberikan kekuatan dan ketenangan sehingga dapat menolong mereka,” ungkap anggota Ikatan Dokter Indonesia Jakarta Timur ini.

Bagi dr. Louisa, tantangan terberat dalam menangani korban gempa adalah ketika pasien harus dirujuk ke rumah sakit besar untuk penanganan lebih lanjut. Sejumlah jalan penghubung rusak berat dan kurangnya ketersediaan kendaraan. Bahkan sempat tidak ada listrik dan air.  

“Banyak jenazah yang masih berada di bawah reruntuhan bangunan dan belum bisa ditangani. Ada satu keluarga yang datang minta tolong karena anggota keluarga tertimpa rumah yang runtuh, tetapi alat berat belum bisa masuk untuk mengevakuasi korban,” tutur anggota Taruna Siaga Bencana Alam Nasional ini.

Kerja Sama FK UKI dengan Kementerian PPPA

dr. Louisa bersama Dokter Spesialis Bedah FK UKI, dr. Sessy Arie Margareth, Sp.B, M. Biomed., kembali menjadi tenaga medis di Lombok dari tanggal 20 – 23 Agustus 2018. Fakultas Kedokteran UKI bekerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), Rotary International, dan FK Universits Islam Al-Azhar, NTB. Mahasiswa FK UKI, Sinyo Abdinyo dan Janter Ade Syahputra Siboro, turut membantu menjadi satu tim dalam memberikan pelayanan pengobatan  kepada korban pengungsi. 

“Dengan kondisi gempa yang datang terus-menerus, masyarakat banyak yang belum bisa diajak  berkomunikasi dengan baik. Mahasiswa FK UKI belajar bagaimana cara mendampingi korban gempa sampai merasa tenang dan aman dan bukan sekedar memberikan obat saja,” ujar Anggota pengurus Persekutuan Dokter GBI Indonesia ini.

Tim Dokter turut menyediakan kebutuhan dasar pengungsi seperti makanan, bantuan obat-obatan, susu, biskuit balita, alat mandi seperti sabun, odol, sikat, handuk, selimut, dan air bersih untuk minum dan mandi.

Senin, 20 Agustus 2018, Tim FK UKI mengikuti arahan FK Universitas Al-Azhar untuk mengadakan pengobatan gratis di dusun Pemenang, Lombok Utara. Selanjutnya Tim FK UKI mengobati keluarga di Lombok Timur dan Lombok Barat. Pada hari Kamis 23 Agustus 2018, Tim FK UKI menyerahkan obat-obatan ke RSUD Penanjung, Lombok Timur.

dr. Louisa bersama dokter lainnya turut bekerja sama dengan Pemerintah Daerah untuk merujuk pasien ke RSUD Penanjung, Lombok Utara. Rumah Sakit Lapangan dengan tenda-tenda BNPB telah hancur akibat gempa. FK UKI juga memberi sumbangan berupa obat-obatan dan tenaga dalam penanganan Gempa Bumi Lombok 2018 melalui Farmasi RSUD Penanjung.

Rencananya, FK UKI akan memberikan pelatihan Program One Student Saves One Family (OSSOF) kepada mahasiswa FK Universitas Al-Azhar, Mataram, NTB, yang di fasilitasi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Satu mahasiswa FK Universitas Al-Azhar NTB, akan mendampingi dan merawat satu keluarga (tertutama keluarga korban gempa) sampai mahasiswa tersebut lulus menjadi Sarjana Kedokteran atau sampai jadi Dokter seperti yang telah dilakukan oleh FK UKI.

(Fransiska Lusuba)