Architecture Festival 1.0
last updated 11-06-2018
Architecture Festival 1.0
JAKARTA, REPORTER UKI

Himpunan Mahasiswa Arsitektur Universitas Kristen Indonesia menggelar Architecture Festival 1.0 dengan tema The World in Our Hands. Rangkaian acaranya adalah workshop Archi Farm, pameran karya mahasiswa Arsitektur UKI, seminar Architecture as Innovator, dan live music.

Acara pembukaan turut dihadiri oleh Dekan Fakultas Teknik U+KI, Ir. Galuh Widati, M.Sc, kepala program studi arsitektur, Ir. Bambang Erwin, MT, wakil rektor bidang kemahasiswaan, hukum dan kerjasama, Dr.rer.pol., Ied Veda Sitepu, SS., MA, serta alumni Arsitektur FT UKI yaitu Ronny Tanumihardja dan Heru Wicaksono.

Rektor UKI Dr. Dhaniswara K. Harjono SH., MH., MBA, membuka festival arsitektur ini dan memberikan kata sambutan, “Program studi Arsitektur UKI memiliki Akreditasi A dan menghasilkan alumni yang inovatif. Salah satunya adalah para alumni turut berpartisipasi dalam penanaman hidroponik di rooftop Fakultas Teknik UKI.”

Salah satu rangkaian acara Arsitektur Festival 1.0 adalah Workshop Archi Farm yaitu pelatihan menanam sayuran dengan metode hidroponik. Metode Hidroponik dilakukan dengan cara menanam tumbuhan dengan media air sebagai pengganti tanah. Workshop dipimpin langsung oleh Ronny Tanumihardja, seorang Arsitek lulusan FT Arsitektur UKI, Angkatan 1993. Ronny juga merupakan Praktisi Hidroponik Indonesia.

Mahasiswa mengikuti dengan antusias workshop Archi Farm dengan mencoba praktek langsung membuat hidroponik. Sebelumnya mahasiswa Arsitektur UKI telah melaksanakan Program Pengabdian Masyarakat di kampung binaan Kelurahan Kebon Pala dengan membantu masyarakat dalam pembuatan hidroponik.

Ketua Pelaksana Kegiatan Archi Farm, Christhover, menjelaskan, “Archi Farm ini akan berdiri sebagai kewirausahaan yang memiliki pendapatannya dengan memanen setiap sebulan sekali. Pengurus Himpunan mengambil andil dalam keikutsertaan untuk membantu masyarakat dengan Program Pengabdian Masyarakat. Cara konsumtif masyarakat terhadap sayuran sangat tinggi, namun dengan terbatasnya lahan untuk bercocok tanaman membuat masyarakat memiliki inovasi Hidroponik. Lokasi yang menjadi ladang Hidroponik berada di atas Rooftop Fakultas Teknik UKI lantai 3. Perawatan dilakukan dengan pengecekan setiap harinya yaitu pemberian nutrisi dan ketinggian air yang terus dipantau. ”

“Salah satu metodenya iaalah Rock wool dipotong-potong membentuk pola dadu kemudian biji sawi dan bayam disemai, pengecekan setiap hari dengan memperhatikan kondisi air yang menggenang. Lalu seminggu kemudan dipindahkan kedalam bak air yang mengalir dan diberi nutrisi dengan dipandu, “ ujar Ronny Tanumihardja.

Ronny Tanumihardja menjelaskan bahwa alasan menanam metode hidroponik adalah lahan semakin sempit, banyaknya alih fungsi lahan, pertumbuhan penduduk sangat pesat, bisa dilakukan siapa saja, dan mendukung swasembada pangan.

“Kelebihan hidroponik yaitu murah. Investasi di awal memang tinggi dan membutuhkan modal awal yang besar. Namun dua tahun kemudian akan balik modal. Kelebihan lainnya yaitu hemat air dan pupuk. Berbagai macam tanaman yang biasa di tanam di dataran tinggi seperti kol, sawi dan selada, dapat ditanam dengan Hidroponik,” pendiri Komunitas Hidroponik Indonesia ini

Acara “Architecture Festival 1.0” turut dimeriahkan dengan seminar “Architecture as Innovator”. Ir. Baskoro  Tedjo, MSEB., P. hD. sebagai narasumber pertama dalam pemaparannya mengatakan bahwa bagi seorang arsitek, inovasi adalah suatu keharusan yang harus diperhatikan, terlebih di zaman millennial. Ada 4 faktor inovasi diantaranya adalah status ekonomi, tren/selera, travelling culture, millennial generation.

Realrich Sjarief, IAI, ST., MUDD adalah seorang Arsitek dan Desainer Urban. “Ada 3 buah pikiran yang dimiliki seorang innovator yaitu conventional mind, original mind dan yang terakhir menggabungkan keduanya menjadi dimensional mind. Intinya bahwa inovasinya seorang innovator harus melihat masa lampau dan masa sekarang dan jika disatukan itulah kesempurnaan inovasi seorang innovator. Coretan kertas itu jangan pernah dibuang tetapi kumpulkan. Suatu saat kamu membukannya dan menyatukannya hingga memunculkan ide-ide untuk mendesign dari coretan-coretan yang salah itu,” ujar Realrich Sjarief.

Denny Setiawan ST. MT., IAI sebagai narasumber ketiga dalam pemaparannya mengatakan menjadi seorang arsitek itu tidak selamanya kita menghasilkan karya yang baik, tetapi tetaplah jadi arsitek yang bagus. Erwin Cahyadi, IAI,AA turut menjelaskan bahwa seorang arsitektur harus yakin menemukan masa depan. Sebagai mahasiswa harus bisa menjangkau pikiran masa depan untuk mempersiapkan segala sesuatunya.

(Fransiska Lusuba)