Asia Pacific Conference 2019 : Indo Pacific and Beyond
last updated 14-03-2019
Asia Pacific Conference 2019 : Indo Pacific and Beyond
REPORTER UKI —
Kazuo Sunaga, Ambassador of Japan to ASEAN dan Dave Peebles, Minister Counsellor for Political and Public Diplomacy Branch, Australian Embassy , menghadiri Asia Pacific Conference 2019 : Indo Pacific and Beyond yang digelar Program studi Hubungan Internasional FISIPOL UKI pada tanggal 20 Februari 2019. Kazuo Sunaga menjelaskan Hubungan negara Jepang dengan ASEAN. Sementara Dave Peebles menceritakan tentang hubungan negara Australia dan Indonesia di kawasan Indo-Pacific. 

Acara ini merupakan kerjasama Prodi HI UKI dengan Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) dan LIPI. Konferensi turut menghadirkan Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan, Kementerian Luar Negeri RI, Dr. Siswo Pramono, LL.M

Rektor UKI, Dr. Dhaniswara K. Harjono, S.H., M.H., MBA menyambut baik konferensi ini karena sudah menjadi Visi UKI untuk menjadi universitas unggul dalam bidang pendidikan, penelitian, pengabdian dan pelayanan kepada masyarakat Indonesia dan Asia sesuai nilai kristiani dan Pancasila. “Asia Pacific Conference akan menghasilkan rekomendasi yang inovatif, kreatif dan adaptif untuk menjawab tantangan bidang sosial politik saat ini, “ ujar Dr. Dhaniswara K. Harjono.

Ketua Pelaksana Chair of Asia Pacific Conference 2019, Dr. Verdinand Robertua Siahaan, S.Sos., M.Soc. Sc, membuka acara ini dengan memberikan kata sambutan, “Indonesia dapat menggunakan konsep Indo Pasific menjadi alat efektif bagi negara untuk bekerjasama menemukan solusi efektif bagi permasalahan lokal, regional dan global. Indonesia adalah negara demokrasi ketiga terbesar di dunia dengan ideologi Pancasila. Indo-Pacific haruslah membuat masyarakat Indonesia menjadi lebih baik. Konsep Indo Pasific tidak hanya menjadi pemikiran akademisi dan diplomat namun menjadi pemikiran petani, nelayan, komunitas, pelajar dan pemilik usaha kecil. Melalui Konferensi ini akan menghasilkan resolusi kedepannya untuk mengatasi tantangan permasalahan ekonomi, politik, sosial budaya dan lingkungan di tingkat nasional, regional dan global.”

Di sesi kedua, pembicara Dr. Adriana Elisabeth, M.Soc.Sc, mempresentasikan Indo-Pacific Strategy From An Indonesian Perspective. “Indonesia sebagai negara yang memiliki pengalaman sebagai mediator atau fasilitator dalam proses perdamaian dan terus mencoba menyeimbangkan antara kepentingan nasional dan komitmen global,” ungkap dosen Prodi HI Universitas Pelita Harapan ini.

Selanjutnya Kepala Center for Security and Foreign Affairs Studies Program Studi HI FISIPOL UKI, Siti Merida Hutagalung, S.H., M.Hum, menjelaskan "Tantangan ASEAN Consensus on the Promotion and Protection of the Right of Migrant Workers Dalam Mengharmonisasikan People Centered and People Oriented." 

“Konsep Indo-Pasifik menjadi bahan perdebatan sepanjang konferensi. Umumnya konsep ini merujuk pada kerjasama lintas regional, melintasi dua samudera, Hindia dan Pasifik, “ ujar Kepala PSDR LIPI, Dr. Ganewati Wuryandari, M.A.

Kegiatan dihadiri Dekan Fisipol UKI, Angel Damayanti, S.P., M.Si., M.Sc., Ph.D, Kepala Prodi HI UKI, Dra. Valentina Lusia Sinta Herindrasti, MA, dosen Prodi HI UKI dan universitas lainnya yang tergabung dalam AIHII.