Seminar Sex and Teenager World
last updated 25-05-2018
Seminar Sex and Teenager World
REPORTER UKI —

Badan Pekerja Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia menggelar Seminar Sex and Teenager World (19/5) di Auditorium Graha William Suryadjaja FK UKI. Dekan FK UKI, dr. Marwito Wiyanto, M.Biomed., AIFM bertindak sebagai moderator dalam seminar ini.

Acara dihadiri mahasiswa UKI dan mahasiswa dari universitas lain di antaranya Universitas Pancasila, Universitas Gunadarma, Universitas Trisakti, Universitas Persada Indonesia YAI, Universitas Paramadina, STIKS Tarakanita. Peserta seminar mengerjakan pretest dan posttest untuk mengukur tingkat pengetahuan peserta setelah mengikuti seminar.

“Pendidikan tentang seks dapat diberikan kepada mahasiswa untuk pencegahan HIV AIDS. Melalui seminar ini, mahasiswa diharapkan dapat meningkatkan kepedulian kesehatan terhadap dirinya sendiri,”ujar dr. Marwito saat menyampaikan sambutannya.
Ketua BPSM FK UKI, Ivan Natanael Marianus, mengimbau rekan-rekannya untuk menyimak seksama materi seminar dan menerapkan gaya hidup sehat pada diri sendiri sehingga dapat berbagi informasi pada orang lain.

Rektor UKI, Dr. Dhaniswara K. Harjono S.H., M.H., MBA., berpesan agar anak muda haruslah bergaul dengan sehat dan baik. Sebagai salah satu narasumber, Dr. Dhaniswara K. Harjono menjelaskan bahwa hukum positif di Indonesia atau hukum yang berlaku di Indonesia belum mengatur masalah seks bebas.

Pasal 284 KUHP isinya perzinahan (persetubuhan di luar nikah) akan dikenakan sanksi bila dilakukan oleh pria dan wanita yang telah menikah, jika ada pengaduan dari pihak yang dirugikan.

“Upaya menangkal seks bebas antara lain menghindari lingkungan yang buruk, membatasi waktu keluar rumah, mengisi waktu dengan kegiatan positif, jangan salah pergaulan, perkuat iman, dan perbesar peranan orang tua, “ tutur alumni FH UKI ini.

Seksolog, Dr. Bona Simanungkalit, DHSM, M.Kes, FIAS, mengatakan bahwa salah satu hak seksual dari individu ialah hak mendapatkan informasi dan pendidikan. Perempuan memiliki hak menjalani kehidupan seksual yang sehat secara aman tanpa paksaan. Hal ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah No. 61 tahun 2014 tentang kesehatan seksual dan reproduksi. Perilaku seksual yang sesuai ialah seksual marital.

Wakil Dekan FK UKI, dr. Louisa A. Langi, M.Si, M.A., menjelaskan pola hidup sehat ialah makanan yang menyehatkan, gerak badan yang teratur, minum air yang cukup, mendapatkan sinar matahari yang cukup, menghirup udara yang segar, istirahat yang cukup dan percaya pada Tuhan. Ada beberapa faktor penentu kesehatan seseorang yaitu gaya hidup, lingkungan, keturunan dan pelayanan kesehatan.

Psikolog, Zoya D. Amirin, M.Psi., FIAS, mengungkapkan, “Seksualitas merupakan kualitas manusia yang paling dalam berupa perasaan antar lawan jenis paling akrab dan intim, pengakuan, penerimaan dan ekspresi diri terkait dengan gendernya. Masa remaja merupakan masa eksplorasi dan eksperimentasi dari perkembangan seksualitasnya. Tugas perkembangan remaja adalah mencari identitas seksual.”

Zoya Amirin sangat menyarankan agar masyarakat menunda hubungan seks pertama sampai seseorang siap secara fisik dan emosi, sebaiknya setelah menikah. Kehamilan yang tidak diinginkan akan merusak masa depan.