Mesta Limbong, Raih Gelar Doktor di UNJ Dengan Predikat Sangat Memuaskan
last updated 2017-10-02 13:05:36
Mesta Limbong, Raih Gelar Doktor di UNJ Dengan Predikat Sangat Memuaskan
INAKORAN —

Mesta Limbong, staf pengajar di Universitas Kristen Indonesia (UKI) Cawang, mulai Kamis (7/9/2017) dinyatakan sah dan berhak menyemat gelar doktor di depan namanya.

Gelar itu diraih wanita kelahiran Tapanuli Samosir 20 Maret 1958 itu, setelah ia berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul ”Peran Corporate Social Responsibility (CSR) Terhadap Mutu Pendidikan Dasar 9 Tahun Di Perkebunan Kelapa Sawit”, di Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Dalam disertasi itu, Mesta menyoroti peran nyata perusahaan perkebunan kelapa sawit yang berada di bawah pengelolahan PT WNL BGA yang berlokasi di Cempaga Hulu Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, bagi peningkatan mutu pendidikan dasar 9 tahun di daerah itu.

Dalam pemaparannya, Mesta menyebut sekitar sepuluh peran yang dilaksanakan perusahaan sebagai perwujudan tanggung jawab sosial mereka kepada masyarakat.
Akan tetapi karena fokus penelitiannya hanya pada sektor pendidikan, maka dalam seluruh pemaparan disertasinya itu, Mesta lebih banyak menjelaskan secara rinci soal peran CSR PT WNL BGA serta apa dampak terhadap mutu pendidikan dasar 9 tahun yang ada di perkebunan itu.

Meski sempat diteror dengan beberapa pertanyaan yang bersifat menyerang dari salah seorang profesor penguji, namun berkat penampilan yang tenang khas seorang ibu, Mesta bisa menjawab semua pertanyaan itu dengan lugas dan lancar.

Soal profesor yang menjadi promotor, Mesta termasuk mahasiswi beruntung, sebab ia dibimbing oleh seorang profesor yang sangat bijak dan cerdas yakni Prof. Dr. Emeritus H.A.R Tilaar,M.Sc.Ed.

Ketika mendapat giliran untuk mengajukan pertanyaan, Prof. Tilaar akhirnya tidak sanggup menyembunyikan kegembiraannya terhadap mahasiswi bimbingannya itu.

Dengan diawali pekikan “horas” Prof. Tilaar secara jujur mengatakan bahwa dirinya sangat bangga dengan prestasi yang diraih seorang Mesta Limbong.

Menurut Prof. Tilaar, mengambil lokasi penelitian di tengah hutan Kalimantan, merupakan satu pilihan awal yang sangat berani dan menantang bagi seorang perempuan peneliti seperti Mesta.
Menurutnya, tidak banyak mahasiswa S3 yang berani memilih langkah seperti itu. Karena itu, Prof. Tilaar sangat mengapresiasi pencapaian yang diraih Mesta Limbong dalam meraih gelar doktor dalam bidang pendidikan di UNJ kemarin.

Kegembiraan Mesta Limbong menjadi semakin sempurna, karena di momen ilmiah seperti itu, ia didampingi oleh orang-orang yang sangat mencintai dia selama ini yakni suami, Robert Panjaitan, yang juga dosen di UKI, dan juga ketiga putranya yakni Ruhut Timothy Panjaitan (sedang menempuh pendidikan S2 di UI), Radityo Jonahtan Aron Panjaitan (staf di Deplu) dan si bungsu Joel Prasetyo Panjaitan (berkecimpung di dunia swasta).

Usai ujian disertasi terbuka itu, Mesta disalami banyak sahabat dan keluarga besar yang memang diundang secara khusus ke acara itu.

Namun, dari semua undangan yang hadir saat itu, ada satu sosok istimewa yang sulit dilupakan Mesta dalam catatan harian hidupnya hari itu.

Sosok itu, tidak lain adalah ayahanda Mesta Limbong. Sosok ini tergolong istimewa, lantaran ia datang ke momen istimewa itu di usianya sudah usur yakni sekitar 80 tahun.

Dengan langkah yang terseok-seok, ia maju ke podium tempat putrinya berdiri saat diuji, lalu memeluk putrinya itu sambil tersenyum, seakan ia mau mengatakan bahwa “aku bangga padamu nak”.

Hari-hari ke depan, mahasiswa UKI khususnya, dan masyarakat Indonesia umumnya menanti dengan penuh harap implementasi dari rekomendasi yang disampaikan Dr. Mesta Limbong, M.Psi. dalam disertasi kemarin. Selamat!

Sumber : Inakoran (http://inakoran.com/2017/09/09/mesta-limbong-raih-gelar-doktor-di-unj-dengan-predikat-sangat-memuaskan/)